Selasa, 26 Mei 2020

ONTOLOGI ( CABANG ILMU FILSAFAT)


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

  Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukan munculnya perenungan dibidang ontologi. Yang tertua di antara segenap filsafat Yunani yang kita kenal adalah Thales. Atas perenungannya terhadap air subtansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu.      
Dalam persoalan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini? Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama, kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kedua,adanya yang berupa rohani (kejiwaan).
Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas sekali, yaitu segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat adalah realitas; realita adalah ke-real-an, Rill adalah kenyataan yang sebenarnya. Jadi hakikat adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah.
Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab “apa” yang menurut Aristoteles merupakan ilmu mengenai esensi benda. Untuk lebih jelasnya penulis mengemukakan pengertian dan pemikiran dalam ilmu ontologi ini.
B. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari ontologi?
2.      Sebab mudahnya aliran ontologi dapat berkembang?
3.      Apa saja aliran dalam metafisika ontologi?
4.      Apa saja objek kajian ontologi?
C. Tujuan
1.      Mengetahui apa pengertian ontologi.
2.      Mengetahui sebab mudahnya aliran ontologi dapat berkembang.
3.      Mengetahui aliran apa saja dalam metafisika ontologi.
4.      Mengetahui apa saja objek kajian ontologi.


PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN ONTOLOGI

  Kata ontologi berasal dari bahasa Yunani: On = being dan Logos = logic. Jadi Ontologi adalah The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Louis O.KattsoffLouis O.Kattsof dalam Element of filosophy mengatakan, ontologi itu mencari ultimate reality dan menceritakan bahwa diantara contoh pemikiran ontologi adalah pemikiran Thales, yang berpendapat bahwa airlah yang menjadi ultimate subtance yang mengeluarkan semua benda. Jadi asal semua benda hanya satu saja yaitu air.[1]
                 Neong muhadjir dalam sebuah bukunya tentang Filsafat Ilmu mengatakan, ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta secara umum. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam sebuah kenyataan, dalam rumusan Lorens Bagus, menjelaskan apa yang ada meliputi semua realitas dalam sebuah bentuknya. Sedangkan menurut Jujun S. Surisumantri dalam bukunya tentang pengantar ilmu dalam persepektif mengatakan, ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan kata lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”.     
 Sementara itu, A Dardi dalam sebuah karangan bukunya berjudul Humaniora, filsafat, dan logika mengatakan, ontologi adalah menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundumental dan cara yang berada dimana entitas dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada dalam kerangka tradisional ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan dalam pemakaiannya akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai yang ada.[2]        
            Menurut Amsal Bakhtiar dalam Buku karangannya berjudul Filsafat Agama I mengatakan, ontologi berasal dari kata ontos = sesuatu yang berwujud. Ontologi adalah teori/ilmu tentang wujud, tentang hakikat yang ada serta ontologi tidak berdasarkan pada alam semata tapi pada logika semata mata.

               Dari pengetahuan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.       Menurut bahasa, ontologi ialah berasal dari bahasa yunani yaitu, On/Ontos = ada, dan Logos = ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada.
2.       Menurut istilah, Ontologi ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak.[3]

B.     SEJARAH ONTOLOGI

            Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M. Untuk menamai teori tentang hakikat yang ada bersifat metasifis. Dalam  perkembangannya  Christian Wolff (1679-1754) membagi metafisika  menjadi dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedang metafisika khusus masih dibagi bagi lagi menjadi kosmologi, psikologi, dan teologi.
            Kosmologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta. Psikologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa manusia. Teologi adalah cabang filsafat yang membicarakan khusus tentang Tuhan.[4]
              
C.    PERKEMBANGAN ILMU ONTOLOGI
         
            Aliran ontologi ini adalah salah satu aliran tertua. Yang dimana pembahasannya mengenai suatu objek dan mudah dikembangkan oleh para filsof Ada beberapa alasan mengapa aliran ini dapat berkembang, diantaranya:
N ILMU ONTOLOGI
1.      Pada pikiran yang masih sederhana, apa yang kelihatan, yang dapat diraba, biasanya dijadikan kebenaran terakhir. Pikiran yang masih sederhana tidak mampu memikirkan sesuatu di luar ruang, yang abstrak.
2.    PePpPPPKJKJPenemuan-penemuan menunjukan betapa bergantungnya jiwa pada badan. Maka peristiwa jiwa selalu dilihat sebagai peristiwa jasmani. Jasmani lebih menonjol dari pada peristiwa itu.
3.      Dalam sejarahnya manusia memang bergantung pada benda, seperti pada padi. Dewi sri dan tuhan muncul dari situ. Kesemuanya ini memperkuat dugaan bahwa yang merupakan hakikat adalah benda.[5]

D.    ALIRAN METAFISIKA ONTOLOGI
        
Ontologi atau bagian metafisika yang umum  membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh yang mengkaji persoalan persoalan, seperti hubungan akal dengan benda, hakikat perubahan, pengertian tentang kebebasan, dan lainnya.
             Di dalam pemahaman atau pemikiran ontologi ditemukan pandangan pandangan pokok pemikiran, seperti: monoisme. dualisme, pluarisme, nikhlisme, dan agnotisisme.[6]

a.       Aliran Monoisme

Paham monoisme menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber asal, baik yang asal berupa materi maupun berupa ruhani. Tidak mungkin ada hakikat masing masing bebas dan berdiri sendiri. Istilah monoisme oleh Thomas Davidson  disebut dengan block universe. Paham monoisme kemudian terbagi menjadi dua aliran, yaitu aliran materialisme dan aliran idealisme. Aliran materialisme menanggap bahwa sumber yang asal itu adalah nateri bukan ruhani. Aliran ini juga sering disebut aliran naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu satunya cara tertentu. Sedangkan aliran idealisme dinamakan juga spritualisme. Diambil dari kata ‘idea’ yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam ini semua berasal dari ruh, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dari pengalaman ruhani.
Menurut Rapar, aliran materialisme menolak hal hal yang tidak terlihat. Bagi materialisme, ada yang sesungguhnya adalah yang keberadaannya adalah semata mata bersifat material atau sama sekali bergantung pada material. [7]

b.      Aliran Dualisme

Aliran dualisme adalah aliran yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme. Menurut aliran dualisme materi maupun ruh sama-sama merupakan hakikat. Materi muncul bukan karena adanya ruh, begitu pun ruh muncul bukan karena materi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya aliran ini masih memiliki masalah dalam menghubungkan dan menyeleraskan kedua aliran tersebut.
Aliran dualisme memandang bahwa alam terdiri dari dua macam hakikat sebagai sumbernya. Aliran dualisme merupakan paham yang serba dua, yaitu antara materi dan bentuk. Menurut paham dualisme, di dalam dunia itu selalu dihadapkan kepada dua pengertian, yaitu yang ada sebagai potensi dan yang ada secara terwujud. Keduanya adalah sebutan yang melambangkan materi (hule) dan bentuk (eidos).
Pengertian materi dalam pandang aliran dualisme ini tidak sama dengan pengertian materi yang dipahami sekarang ini. Menurut Aristoteles, materi (hule) adalah dasar terakhir segala perubahan dari hal hal yang berdiri sendiri dan unsur bersama yang terdapat di dalam  segala sesuatu yang menjadi dan binasa. Materi dalam arti mutlak adalah asas atau lapisan bawah yang paling akhir atau umum.
Tiap benda yang dapat diamati disusun dari materi. Oleh karena itu, materi mutlak diperlukan bagi pembentukan segala sesuatu. Di lain pihak, dapat dijelaskan bahwa materi adalah kenyataan yang belum terwujud, yang belum ditentukan, tetapi yang memiliki potensi, bakat untuk menjadi terwujud atau menjadi ditentukan oleh bentuk. Padanya ada kemungkinan untuk menjadi nyata, karena kekuatan yang membentuknya.
Sedangkan bentuk (eidos) adalah pola segala sesuatu yang tempatnya di luar dumia ini, yang berdiri sendiri, lepas dari benda konkret, yang adalah penerapannya. Bagi Aristoteles, eidos adalah asas yang berada di dalam benda yang konkret, yang secara sempurna menentukan jenis benda itu, yang menjadikan benda yang kongkret itu disebut demikian (misalnya disebut meja, kursi, dan lain-lain). Jadi, segala pengertian yang ada pada manusia, seperti meja, kursi tersebut bukanlah sesuai dengan realitas ide yang berada di dumia ide, melainkan sesuai dengan jenis bendayang tampak pada benda konkret.[8]

c.       Aliran Pluralisme

Sementara paham pluralisme berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas.[9]
Menurut William James dalam bukunya The meaning of truth james mengemukakan, tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus, dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena dalam praktiknya apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu, tiada kebenaran yang mutlak, yang ada adalah kebenaran-kebenaran , yaitu apa yang benar dalam pengalaman khusus yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya. Kenyataan terdiri dari banyak kawasan yang berdiri sendiri. Dunia bukanlah satu unit-versum, melainkan suatu multi-versum. Dunia adalah suatu dunia yang terdiri dari banyak hal yang beraneka ragam atau pluralis.[10]

d.      Aliran Nihilisme

Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev dalam novelnya father and childern  yang ditulispada tahun 1862 di Rusia. Dalam novel itu Bazarov sebagai tokoh sentral mengatakan lemahnya kutukan ketika ia menerima ide nihilisme.
Doktrin tentang nihilisme sebenarnya sudah ada semenjak zaman yunani kuno, yaitu pandangan Gorgias (483-360 SM) yang memberikan tiga proposisi tentang realitas. Pertama, tidak ada satupun yang eksis. Realitas itu sebenarnya tidak ada.
Kita harus menyatakan bahwa realitas itu tunggal dan banyak, terbatas dan tak terbatas, dicipta atau tak dicipta. Karena kontradiksi tidak dapat diterima, maka pemikiran lebih baik tidak menyatakan apa apa tentang realitas. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Ini disebabkan oleh penginderaan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan itu sumber ilusi. Akal juga tidak mampu meyakinkan kita tentang bahan alam semesta ini karena kita telah dilema oleh subjektif. Kita berpikir sesuai dengan kemauan, ide kita, yang kita terapkan pada fenomena. Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.
Selanjutnya dalam paham nihilisme menyatakan bahwa dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas. Aliran ini tidak mengakui validitas alternatif positif. Dalam pandangan nihilisme, Tuhan sudah mati, Manusia sudah bebas dan berkhendak.[11]

e.       Aliran Agnotisisme

Menganut sebuah paham bahwa manusia tidak mungkin mengetahui hakikat sesuatu dibalik kenyataannya. Manusia tidak mungkin mengetahui hakikat batu, air, api, dan sebagainya. Sebab menurut aliran ini kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu apa hakikat sesuatu yang ada, baik oleh indranya maupun oleh pikirannya. Paham agnotisisme mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, hakikat materi maupun hakikat ruhani.[12]
Kata Agnostisisme berasal dari bahasa Grik Agnostos yang berarti Unknown. A artinya not, Gno artinya Know. Timbul aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat trancedent.
 Jadi agnotisisme adalah paham pengingkaran atau penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengetahui hakikat benda baik materi maupun ruhani. Aliran ini mirip dengan skeptisisme yang berpendapat bahwa manusia diragukan kemampuannya mengetahui hakikat. Namun tampaknya agnotisisme lebih dari itu karena menyerah sama sekali.[13]
E.     OBJEK KAJIAN ONTOLOGI
Objek telaah ontologi adalah yang ada, yaitu ada individu, umum, terbatas, tidak terbatas, universal, mutlak, termasuk kosmologi dan metafisika dan ada sesudah kematian maupun sumber segala yang ada, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, pengatur dan pengatur penentu alam semesta.
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekataan kualitatif, realitas tampil dalam kuantitas, telaahnya akan menjadi telaah monoisme, pararelisme, atau pluralisme. Bagi pendekatan kualitatif realitas akan tampil menjadi aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hilomorphisme. Ada tiga objek kajian ontologi yaitu:
a.      Metode dalam ontologi
Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkat abstraksi dalam ontologi, yaitu abtraksi fisik, abtraksi bentuk, dan abtraksi metafisik. Abtraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek, abtraksi bentuk mendeskripsikan metafisik mengenai prinsip umum yang menjadi dasar dari semua orealitas. Abtraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metafisik. Metode pembuktian dalam ontologi oleh Lorens Bagus dibedakan menjadi dua yaitu: pembuktian apriori dan pembuktian a posteriori.
b.      Metafisika
Metafisika berasal dari akar kata ‘meta’ dan ‘fisika’. Meta berarti sesudah, selain, atau dibalik. Fisika yang berarti nyata atau alam fisik. Metafisika berarti sesudah dibalik yang nyata, dengan kata lain metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan hal hal yang berada dibelakang gejala gejala yang nyata.
Metafiska merupakan ilmu  yang membicarakan tentang hal hal yang sangat mendasar yang berada di luar pengalaman manusia. Metafiska mengkaji segala sesuatu secara komphrensif. Menurut Asmoro Ahmad, metafisika merupakan cabang ilmu filsafat yang membicarakan sesuatu yang bersifat keluarbiasaan yang berada di luar pengalaman manusia.
Ditinjau dari segi filsafat secara menyeluruh metafisika adalah ilmu yang memikirkan hakikat dibalik alam nyata. Metafisika membicarakan hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata tanpa dibatasi pada sesuatu yang dapat diserap oleh panca indra.
Menurut Aristoteles, ilmu metafisika termasuk cabang filsafat teoritis yang membahas masalah hakikat segala sesuatu, sehingga ilmu metafisika menjadi inti filsafat. Selanjutnya Aristoteles menjelaskan bahwa masalah masalah-masalah sesuatu yang fundumental dari kehidupan. Oleh karena itu, setiap orang yang sadar berhadapan dengan sesuatu yang metafisik tetap tersangkut didalamnya.[14]
c.       Asumsi
Pendapat yang telah didukung oleh beberapa teori dan fakta yang dapat dibuktikan secara rasional. Berkenaan dengan pengkajian konsep-konsep, pengadaian-pengadaian. Dengan demikian, filsafat ilmu erat kaitannya dengan pengkajian analisis konseptual dan bahasa yang digunakannya, dan juga dengan perluasan serta penyusunan cara-cara yang lebih tepat untuk memperoleh pengetahuan.[15]


[1] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, ( Bandung: Rosdakarya, 2000), hlm. 29.
[2] Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, ( Jakarta: Rajagrafindo, 2012), hlm. 133.
[3]Op.cit, Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, hlm. 134.
[4] Drs. A. Susanto, Filsafat Ilmu, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 91.
[5]Op.cit Prof. Dr. Ahmad Tafsir, hlm. 29.
[6]Op.cit Drs. A. Susanto, hlm. 94.

[7]Op.cit Drs. A. Susanto, Filsafat Ilmu, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 95.

[8]Op.cit Drs. A. Susanto, hlm. 97.
[9]Ib.id, hlm. 97-98.
[10]Op.cit Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, hlm. 144.
[11]Op.cit Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, hlm. 145.
[12]Op.cit Drs. A. Susanto, Filsafat Ilmu, hlm. 98.

[13]Op.cit Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, hlm. 147.

[14]Op.cit Drs. A. Susanto,hlm. 93.
[15]Ib.id, hlm. 94.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ONTOLOGI ( CABANG ILMU FILSAFAT)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang   Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal...