PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ontologi
merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling
kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukan munculnya perenungan
dibidang ontologi. Yang tertua di antara segenap filsafat Yunani yang kita
kenal adalah Thales. Atas perenungannya terhadap air subtansi terdalam yang
merupakan asal mula dari segala sesuatu.
Dalam persoalan ontologi orang menghadapi
persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini?
Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama, kenyataan
yang berupa materi (kebenaran) dan kedua,adanya yang berupa rohani (kejiwaan).
Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas sekali,
yaitu segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat adalah realitas;
realita adalah ke-real-an, Rill adalah kenyataan yang sebenarnya. Jadi hakikat
adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan
yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah.
Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar ilmu
berusaha untuk menjawab “apa” yang menurut Aristoteles merupakan ilmu mengenai
esensi benda. Untuk lebih jelasnya penulis mengemukakan pengertian dan
pemikiran dalam ilmu ontologi ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari ontologi?
2. Sebab mudahnya aliran
ontologi dapat berkembang?
3. Apa saja aliran dalam
metafisika ontologi?
4. Apa saja objek kajian
ontologi?
C.
Tujuan
1. Mengetahui apa pengertian
ontologi.
2. Mengetahui sebab mudahnya
aliran ontologi dapat berkembang.
3. Mengetahui aliran apa saja
dalam metafisika ontologi.
4. Mengetahui apa saja objek
kajian ontologi.
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN ONTOLOGI
Kata ontologi berasal dari bahasa Yunani: On
= being dan Logos = logic. Jadi Ontologi adalah The theory of being qua being (teori
tentang keberadaan sebagai keberadaan). Louis O.Kattsoff dalam Element of filosophy mengatakan, ontologi itu mencari ultimate reality dan menceritakan bahwa
diantara contoh pemikiran ontologi adalah pemikiran Thales, yang berpendapat
bahwa airlah yang menjadi ultimate
subtance yang mengeluarkan semua benda. Jadi asal semua benda hanya satu
saja yaitu air.[1]
Neong muhadjir dalam sebuah bukunya tentang Filsafat Ilmu mengatakan,
ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.
Ontologi membahas tentang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta
secara umum. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam sebuah
kenyataan, dalam rumusan Lorens Bagus, menjelaskan apa yang ada meliputi semua
realitas dalam sebuah bentuknya. Sedangkan menurut Jujun S. Surisumantri dalam
bukunya tentang pengantar ilmu dalam persepektif mengatakan, ontologi membahas
apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan kata
lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”.
Sementara
itu, A Dardi dalam sebuah karangan bukunya berjudul Humaniora, filsafat, dan
logika mengatakan, ontologi adalah menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata
secara fundumental dan cara yang berada dimana entitas dari kategori-kategori
yang logis yang berlainan (objek-objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat
dikatakan ada dalam kerangka tradisional ontologi dianggap sebagai teori
mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan dalam pemakaiannya
akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai yang ada.[2]
Menurut
Amsal Bakhtiar dalam Buku karangannya berjudul Filsafat Agama I mengatakan,
ontologi berasal dari kata ontos = sesuatu yang berwujud. Ontologi adalah
teori/ilmu tentang wujud, tentang hakikat yang ada serta ontologi tidak
berdasarkan pada alam semata tapi pada logika semata mata.
Dari pengetahuan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Menurut bahasa, ontologi ialah berasal dari
bahasa yunani yaitu, On/Ontos = ada, dan Logos = ilmu. Jadi, ontologi adalah
ilmu tentang yang ada.
2. Menurut istilah, Ontologi ialah ilmu yang
membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik
berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak.[3]
B. SEJARAH ONTOLOGI
Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun
1636 M. Untuk menamai teori tentang hakikat yang ada bersifat metasifis.
Dalam perkembangannya Christian Wolff (1679-1754) membagi
metafisika menjadi dua, yaitu metafisika
umum dan metafisika khusus. Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain
dari ontologi. Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang
filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari
segala sesuatu yang ada. Sedang metafisika khusus masih dibagi bagi lagi menjadi
kosmologi, psikologi, dan teologi.
Kosmologi
adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta.
Psikologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa
manusia. Teologi adalah cabang filsafat yang membicarakan khusus tentang Tuhan.[4]
C.
PERKEMBANGAN ILMU ONTOLOGI
Aliran ontologi ini adalah salah satu aliran tertua. Yang dimana
pembahasannya mengenai suatu objek dan mudah dikembangkan oleh para filsof Ada
beberapa alasan mengapa aliran ini dapat berkembang, diantaranya:
1. Pada pikiran yang masih
sederhana, apa yang kelihatan, yang dapat diraba, biasanya dijadikan kebenaran
terakhir. Pikiran yang masih sederhana tidak mampu memikirkan sesuatu di luar
ruang, yang abstrak.
2. Penemuan-penemuan menunjukan betapa bergantungnya jiwa pada badan. Maka
peristiwa jiwa selalu dilihat sebagai peristiwa jasmani. Jasmani lebih menonjol
dari pada peristiwa itu.
3. Dalam sejarahnya manusia
memang bergantung pada benda, seperti pada padi. Dewi sri dan tuhan muncul dari
situ. Kesemuanya ini memperkuat dugaan bahwa yang merupakan hakikat adalah
benda.[5]
D.
ALIRAN METAFISIKA ONTOLOGI
Ontologi atau bagian metafisika yang umum membahas segala sesuatu yang ada secara
menyeluruh yang mengkaji persoalan persoalan, seperti hubungan akal dengan benda,
hakikat perubahan, pengertian tentang kebebasan, dan lainnya.
Di dalam pemahaman atau pemikiran ontologi
ditemukan pandangan pandangan pokok pemikiran, seperti: monoisme. dualisme,
pluarisme, nikhlisme, dan agnotisisme.[6]
a.
Aliran Monoisme
Paham monoisme menganggap bahwa hakikat yang asal
dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu
hakikat saja sebagai sumber asal, baik yang asal berupa materi maupun berupa
ruhani. Tidak mungkin ada hakikat masing masing bebas dan berdiri sendiri.
Istilah monoisme oleh Thomas Davidson
disebut dengan block universe. Paham monoisme kemudian terbagi menjadi
dua aliran, yaitu aliran materialisme dan aliran idealisme. Aliran materialisme
menanggap bahwa sumber yang asal itu adalah nateri bukan ruhani. Aliran ini
juga sering disebut aliran naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan
kenyataan dan satu satunya cara tertentu. Sedangkan aliran idealisme dinamakan
juga spritualisme. Diambil dari kata ‘idea’ yaitu sesuatu yang hadir dalam
jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam ini
semua berasal dari ruh, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang.
Materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dari pengalaman ruhani.
Menurut Rapar, aliran materialisme menolak hal hal
yang tidak terlihat. Bagi materialisme, ada yang sesungguhnya adalah yang
keberadaannya adalah semata mata bersifat material atau sama sekali bergantung
pada material. [7]
b.
Aliran Dualisme
Aliran dualisme adalah aliran yang mencoba memadukan
antara dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme.
Menurut aliran dualisme materi maupun ruh sama-sama merupakan hakikat. Materi
muncul bukan karena adanya ruh, begitu pun ruh muncul bukan karena materi. Akan
tetapi, dalam perkembangan selanjutnya aliran ini masih memiliki masalah dalam
menghubungkan dan menyeleraskan kedua aliran tersebut.
Aliran dualisme memandang bahwa alam terdiri dari
dua macam hakikat sebagai sumbernya. Aliran dualisme merupakan paham yang serba
dua, yaitu antara materi dan bentuk. Menurut paham dualisme, di dalam dunia itu
selalu dihadapkan kepada dua pengertian, yaitu yang ada sebagai potensi dan
yang ada secara terwujud. Keduanya adalah sebutan yang melambangkan materi (hule)
dan bentuk (eidos).
Pengertian materi dalam pandang aliran dualisme ini
tidak sama dengan pengertian materi yang dipahami sekarang ini. Menurut
Aristoteles, materi (hule) adalah dasar terakhir segala perubahan dari hal hal
yang berdiri sendiri dan unsur bersama yang terdapat di dalam segala sesuatu yang menjadi dan binasa.
Materi dalam arti mutlak adalah asas atau lapisan bawah yang paling akhir atau
umum.
Tiap benda yang dapat diamati disusun dari materi.
Oleh karena itu, materi mutlak diperlukan bagi pembentukan segala sesuatu. Di
lain pihak, dapat dijelaskan bahwa materi adalah kenyataan yang belum terwujud,
yang belum ditentukan, tetapi yang memiliki potensi, bakat untuk menjadi
terwujud atau menjadi ditentukan oleh bentuk. Padanya ada kemungkinan untuk
menjadi nyata, karena kekuatan yang membentuknya.
Sedangkan bentuk (eidos) adalah pola segala sesuatu
yang tempatnya di luar dumia ini, yang berdiri sendiri, lepas dari benda
konkret, yang adalah penerapannya. Bagi Aristoteles, eidos adalah asas yang
berada di dalam benda yang konkret, yang secara sempurna menentukan jenis benda
itu, yang menjadikan benda yang kongkret itu disebut demikian (misalnya disebut
meja, kursi, dan lain-lain). Jadi, segala pengertian yang ada pada manusia,
seperti meja, kursi tersebut bukanlah sesuai dengan realitas ide yang berada di
dumia ide, melainkan sesuai dengan jenis bendayang tampak pada benda konkret.[8]
c.
Aliran Pluralisme
Sementara paham pluralisme berpandangan bahwa
segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan
dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme sebagai
paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur,
lebih dari satu atau dua entitas.[9]
Menurut William James dalam bukunya The meaning of
truth james mengemukakan, tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang
bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Sebab
pengalaman kita berjalan terus, dan segala yang kita anggap benar dalam
perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena dalam praktiknya apa
yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena
itu, tiada kebenaran yang mutlak, yang ada adalah kebenaran-kebenaran , yaitu
apa yang benar dalam pengalaman khusus yang setiap kali dapat diubah oleh
pengalaman berikutnya. Kenyataan terdiri dari banyak kawasan yang berdiri
sendiri. Dunia bukanlah satu unit-versum, melainkan suatu multi-versum. Dunia
adalah suatu dunia yang terdiri dari banyak hal yang beraneka ragam atau
pluralis.[10]
d.
Aliran Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti
nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif
positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev dalam novelnya
father and childern yang ditulispada
tahun 1862 di Rusia. Dalam novel itu Bazarov sebagai tokoh sentral mengatakan
lemahnya kutukan ketika ia menerima ide nihilisme.
Doktrin tentang nihilisme sebenarnya sudah ada
semenjak zaman yunani kuno, yaitu pandangan Gorgias (483-360 SM) yang
memberikan tiga proposisi tentang realitas. Pertama, tidak ada satupun yang
eksis. Realitas itu sebenarnya tidak ada.
Kita harus menyatakan bahwa realitas itu tunggal dan
banyak, terbatas dan tak terbatas, dicipta atau tak dicipta. Karena kontradiksi
tidak dapat diterima, maka pemikiran lebih baik tidak menyatakan apa apa
tentang realitas. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Ini
disebabkan oleh penginderaan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan itu sumber
ilusi. Akal juga tidak mampu meyakinkan kita tentang bahan alam semesta ini
karena kita telah dilema oleh subjektif. Kita berpikir sesuai dengan kemauan,
ide kita, yang kita terapkan pada fenomena. Ketiga, sekalipun realitas itu
dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.
Selanjutnya dalam paham nihilisme menyatakan bahwa
dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas. Aliran ini tidak mengakui
validitas alternatif positif. Dalam pandangan nihilisme, Tuhan sudah mati,
Manusia sudah bebas dan berkhendak.[11]
e.
Aliran Agnotisisme
Menganut sebuah paham
bahwa manusia tidak mungkin mengetahui hakikat sesuatu dibalik kenyataannya.
Manusia tidak mungkin mengetahui hakikat batu, air, api, dan sebagainya. Sebab
menurut aliran ini kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu apa
hakikat sesuatu yang ada, baik oleh indranya maupun oleh pikirannya. Paham
agnotisisme mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda,
hakikat materi maupun hakikat ruhani.[12]
Kata Agnostisisme
berasal dari bahasa Grik Agnostos yang berarti Unknown. A artinya not, Gno
artinya Know. Timbul aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan
mampu menerangkan secara konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan
dapat kita kenal. Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu
kenyataan mutlak yang bersifat trancedent.
Jadi agnotisisme adalah paham pengingkaran
atau penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengetahui hakikat benda baik
materi maupun ruhani. Aliran ini mirip dengan skeptisisme yang berpendapat
bahwa manusia diragukan kemampuannya mengetahui hakikat. Namun tampaknya
agnotisisme lebih dari itu karena menyerah sama sekali.[13]
E.
OBJEK KAJIAN ONTOLOGI
Objek telaah ontologi adalah yang ada, yaitu ada
individu, umum, terbatas, tidak terbatas, universal, mutlak, termasuk kosmologi
dan metafisika dan ada sesudah kematian maupun sumber segala yang ada, yaitu
Tuhan Yang Maha Esa, pengatur dan pengatur penentu alam semesta.
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh
realitas. Bagi pendekataan kualitatif, realitas tampil dalam kuantitas,
telaahnya akan menjadi telaah monoisme, pararelisme, atau pluralisme. Bagi
pendekatan kualitatif realitas akan tampil menjadi aliran materialisme, idealisme,
naturalisme, atau hilomorphisme. Ada tiga objek kajian ontologi yaitu:
a.
Metode dalam ontologi
Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkat abstraksi
dalam ontologi, yaitu abtraksi fisik, abtraksi bentuk, dan abtraksi metafisik.
Abtraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek, abtraksi
bentuk mendeskripsikan metafisik mengenai prinsip umum yang menjadi dasar dari
semua orealitas. Abtraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi
metafisik. Metode pembuktian dalam ontologi oleh Lorens Bagus dibedakan menjadi
dua yaitu: pembuktian apriori dan pembuktian a posteriori.
b.
Metafisika
Metafisika berasal dari akar kata ‘meta’ dan
‘fisika’. Meta berarti sesudah, selain, atau dibalik. Fisika yang berarti nyata
atau alam fisik. Metafisika berarti sesudah dibalik yang nyata, dengan kata
lain metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan hal hal yang berada
dibelakang gejala gejala yang nyata.
Metafiska merupakan ilmu yang membicarakan tentang hal hal yang sangat
mendasar yang berada di luar pengalaman manusia. Metafiska mengkaji segala
sesuatu secara komphrensif. Menurut Asmoro Ahmad, metafisika merupakan cabang
ilmu filsafat yang membicarakan sesuatu yang bersifat keluarbiasaan yang berada
di luar pengalaman manusia.
Ditinjau dari segi filsafat secara menyeluruh
metafisika adalah ilmu yang memikirkan hakikat dibalik alam nyata. Metafisika
membicarakan hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata tanpa dibatasi pada
sesuatu yang dapat diserap oleh panca indra.
Menurut Aristoteles, ilmu metafisika termasuk cabang
filsafat teoritis yang membahas masalah hakikat segala sesuatu, sehingga ilmu
metafisika menjadi inti filsafat. Selanjutnya Aristoteles menjelaskan bahwa
masalah masalah-masalah sesuatu yang fundumental dari kehidupan. Oleh karena
itu, setiap orang yang sadar berhadapan dengan sesuatu yang metafisik tetap
tersangkut didalamnya.[14]
c.
Asumsi
Pendapat yang telah didukung oleh beberapa teori dan
fakta yang dapat dibuktikan secara rasional. Berkenaan dengan pengkajian
konsep-konsep, pengadaian-pengadaian. Dengan demikian, filsafat ilmu erat
kaitannya dengan pengkajian analisis konseptual dan bahasa yang digunakannya,
dan juga dengan perluasan serta penyusunan cara-cara yang lebih tepat untuk
memperoleh pengetahuan.[15]
[3]Op.cit, Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, hlm. 134.
[5]Op.cit Prof. Dr. Ahmad Tafsir, hlm. 29.
[6]Op.cit Drs. A. Susanto, hlm. 94.
[7]Op.cit Drs. A. Susanto, Filsafat Ilmu, (
Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 95.
[8]Op.cit Drs. A. Susanto, hlm. 97.
[9]Ib.id, hlm. 97-98.
[10]Op.cit Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, hlm. 144.
[11]Op.cit Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, hlm. 145.
[12]Op.cit Drs. A. Susanto, Filsafat Ilmu, hlm.
98.
[13]Op.cit Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, hlm. 147.
[14]Op.cit Drs. A. Susanto,hlm. 93.
[15]Ib.id, hlm. 94.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar