Senin, 06 April 2020

Pandemi corona








WABAH CORONA DALAM PERSPEKTIF TAUHID

Penyebaran Virus Corona kini semakin luas dan meningkat jumlahnya, dampak yang ditimbulkan sangat luar biasa bukan hanya pada kesehatan saja tetapi hingga perekonomian negara dan masyarakat. Bagaikan sebuah teror, yang membuat ketakutan yang mencekam, kekhawatiran, resah dan gelisah, serta panik yang berlebihan, padahal itu sangatlah tidak diharapkan sebab dapat menimbulkan dampak yang semakin mencekam.
Wabah ini tidak mampu diselesaikan jika hanya secara individu ataupun kelompok. Tetapi semuanya harus bersinergi dalam mengatasi penyebaran virus dan pandemi global ini. Semuanya harus berjuang bersama dalam menghadapi bencana pandemi global ini dengan satu landasan yang sama yakni ketauhidan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam hal virus corona ini, bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah, tentunya harus meningkatkan keyakinan tauhid kita kepada Allah, bahwa virus corona ini adalah ciptaan Allah dan Allah maha pencipta dan mengatur segala sesuatau yang ia ciptakan dan semuanya tunduk dan patuh kepada perintah Allah.
Kejadian seperti ini adalah takdir Allah dan Allah menciptakan segala sesuatunya sesuai dengan qodarnya ( ukuran yang Allah tetapkan). Allah juga yang memberikan virus ini kepada siapa yang ia khendakinya, dan Allah pula yang mampu mengangkatnya. Dan semua kejadian ini adalah kekuasaan Allah supaya manusia mau memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah dengan akal yang dimilikinya. K.H Gymnastiar (aa gym) berkata : “ Virus corona ini adalah ciptaan Allah, tubuh ini juga adalah ciptaan Allah, dan virus ini tidak akan masuk ketubuh kita jika bukan karena izin Allah.”

Didalam Al Quran surah Al-Hasyr ayat 18 Allah berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ 
Artinya :’  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dalam kitab tafsirnya, al misbah karangan prof. Quraish Shihab dalam surat al hasyr ayat 18 bertutur tentang perintah Allah Swt kepada orang-orang beriman. Kemudian “hendaklah seseorang menjadikan apa yang telah terjadi sebagai bahan evaluasi, introspeksi, muhasabah, demi masa depan yang lebih baik dan  jangan sampai kita menjadi golongan orang-orang yang lupa melupakan Allah SWT, akibatnya Allah akan melupakan kita, orang demikian dinamakan orang fasik.
Mulai timbul dalam pertanyaan kita, mengapa semua harus dikaitkan dengan agama? Prof. M. Quraish Sihab mengatakan:”Maka persoalannya adalah, mengapa agama itu hadir. Ulama-ulama sepakat ada lima minimal tujuan kehadiran agama. Yang itu; memelihara agama itu sendiri, memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara harta benda dan memelihara keturunan. Segala sesuatu yang menghantarkan pada tujuan itu adalah merupakan anjuran, bahkan kewajiban agama dan segala sesuatu yang mengahambat dan mengakibatkan terabaikannya tujuan tersebut maka dilarang oleh agama.”
Lalu bagaimana menurut pandangan islam dalam menyikapi merajalelanya virus corona bila dikaitkan dengan tauhid? Pada zaman nabi itu sendiri, memang belum ada suatu wabah yang bersifatnya global seperti corona. Tetapi ketika pada zaman Umar bin khatab sebagai khalifah, telah terjadi suatu wabah namun hanya bersifat endemi saja yaitu wabah tha’un.  Suatu hari saat umar menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khatab berkunjung ke syiria. Sebelum memasuki kota, beliau disambut sejumlah rombongan yang mengabarkan bahwa sedang terjadi wabah didalam kota tersebut.
Umar bin Khatab lalu memutuskan untuk balik arah, pulang ke madinah. Ia sempat di tanya oleh seseorang dengan ungkapan yang hampir sama dengan dikatakan sejumlah media saat ini: “ Wahai Amirul Mukminin, takutlah kepada Allah, apapun takdirnya, itulah yang pasti terjadi, hidup atau mati.”

Ketika Umar ditegur bahwa tindakannya seperti orang yang lari dari takdirnya. Maka umar mengatakan:” Bahwa kepustudannya untuk kembali kemadinah adalah upaya untuk berpindah dari takdir yang satu menuju takdir yang lain.”
Lalu seorang sahabatnya, Abdurrahman bin ‘Auf mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “ Jika kamu mendengar wabah disuatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika wabah itu terjadi diwilayahmu berada, maka janganlah kalian meninggalkannya.
Maka hadis tersebut ditashih oleh Imam Bukhari melalui riwayat Abdullah bin Amir, status hadis bernada lockdown ini shahih.
Inilah hakikat iman kepada qodho dan qodar, baik dan buruk berasal dari Allah. Dalam menyikapi hal ini, seorang muslim wajib hukumnya untuk ridho terhadap ketentuan dan ketetapan dari Allah.  Dan ketika musibah itu melanda manusia, Allah memerintahkan kita untuk bersabar dan ridho dengan ketetapan Allah. Tetapi ada sebagian ikhtiar yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.
Serta bagi muslim, jika sisi ketauhidan ini sudah bagus, maka apapun kondisi yang terjadi akibat virus corona, tidak akan menimbulkan rasa takut berlebihan. Ia yakin atas takdir dan ketetapan Allah dan tetap berdoa, sembari tetap melakukan usaha-usaha manusiawi sebagaimana petunjuk nabi.
Jika nantinya dia terhindar dari virus, ia bersyukur kepada Allah, atau ketika dalam usahanya gagal hingga meninggal dunia, maka itu bukan kesengsaraan baginya, sebab dia telah melaksanakan sikap tawakkal dan sebagaimana keterangan hadis Nabi, ia akan dihitung sebagai syahid jika orang beriman.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ONTOLOGI ( CABANG ILMU FILSAFAT)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang   Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal...